Saat ini, Efendi bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah seorang cinamurtad biasa yang karena keberuntungannya mampu menjadi seorang mahasiswa di sebuah kota kecil yang terletak diantara perbatasan jawa timur dan jawa tengah.

Efendi tidak akan dapat ditemukan diantara buku-buku melainkan diantara perempuan dan laki-laki yang telah mengajarinya tentang yang tak terbataskan.

Ada yang berpendapat bahwa Efendi akan berhasil sebagai orang gila maupun seniman besar namun sayang Efendi hanya memiliki masing-masing setengah dari kedua bakat itu.

Bagi seorang Ansos seperti Efendi, pendapat orang lain sama sekali tidak akan menjadi beban dalam dirinya. Toh, dia terlalu mencintai nerakanya sendiri, hingga tidak akan mengijinkan seorangpun mengunjungi nerakanya itu. Sebab ia ingin sendiri disana untuk merenung dan mencoba segala pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya.

Kehidupannya menyedihkan, bahkan para penggali kubur saat ini tengah menanti momen-momen indah saat mengeruk tubuhnya kembali ketanah.mereka bertaruh bahwa disaat itu tiada tangisan hanya akan ada suara tawa-tawa yang tak berkesudahan.

Namun untunglah Efendi tidak cukup bodoh atau mungkin berani untuk mengakhiri hidupnya, meski ia sendiri percaya bahwa tindakan mengambil nyawanya sendiri adalah tindakan yang paling terhormat yang bisa dilakukan seorang pria dalam hidupnya.

Belakangan ini sebuah metode yang lagi-lagi ia pelajari dari buku-buku yaitu hukum ketertarikan telah memberinya semangat hidup yang baru, mendadak ia tersadar bahwa sebelum melakukan Seppuku dia harus memberikan karyanya bagi dunia. Sebab dengan demikian ia akan dikenang.tidak peduli apakah kenangan itu berupa cinta maupun hujatan.(TAF)





Efendi Susanto Aka chigi28