Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi Idealis atau apatis. - Soe Hok Gie
Dan berbeda dengan Soe Hok Gie yang memilih menjadi seorang idealis, dakuw justru sekarang memilih menjadi apatis bahkan hingga skeptics.
Alasannya karena lewat pengalaman hidup pelan-pelan dakuw menyadari bahwa ternyata seseorang dengan idenya tak akan sanggup mengubah apapun. Jangankan seluruh dunia bahkan dalam masyarakatpun acapkali sebuah ide berbenturan dengan kepentingan orang banyak. Ya mungkin ide itu benar atau bahkan ide itu bisa membawa keuntungan bagi masyarakat banyak.
Tapi tetap saja sebuah ide yang baru atau sebuah jalan dan sistem yang baru membutuhkan pengorbanan dari pihak penguasa dan pemodal. Entah itu hanya berupa pengurangan kekayaan, mutasi jabatan, hingga prinsip dan keyakinan. Sebagai seorang idealis dan pembaharu jangan hanya menaruh diri kita sebagai revolusiner namun sekali-kali taruhlah diri kita sebagai kaum yang tradisional, kaum yang menjaga nilai lampau.
Jika kita adalah mereka sanggupkah kita melepaskan sesuatu yang telah membentuk jadi diri kita dan menghidupi kita untuk sesuatu hal yang baru yang memberi manfaat yang lebih kecil bagi kita namun bermanfaat bagi orang banyak?
Dakuw lelah untuk berteriak-teriak dan berjuang untuk sesuatu yang baru jika nantinya toh tetap juga tidak terealisasi. Dakuw benci menjadi pembunuh. Sebab jika ide itu merupakan suatu janin maka dikala ide itu dimatikan di tengah jalan adalah bagai bayi-bayi yang diabortus sebelum berbentuk sempurna. Bagaimanapun yang namanya berbenturan dengan penguasa sistem entah itu penguasa politik atau penguasa ekonomi bahkan budaya. Itu ibarat menjebol tembok benteng, tidak ada jaminan bisa sukses. Bahkan bukan tidak mungkin kitalah yang hancur lebur.
Bukan berarti dakuw adalah mahkluk yang Individualistik dan ooportunitis tulen. Tetap saja keinginan untuk bersosialisasi dan membantu sesama itu ada. Hanya saja dakuw berjalan dan mengikuti kenyataan. Tentang kejamnya dunia dan kemunafikan manusia itu sendiri. Entah dari golongan apapun dia entah itu revolusioner,borjuis,pemerintah maupun agamawan.
Dakuw lebih percaya pada wejangan orang sicilia yang juga mungkin menginspirasi prinsip 3M™ Aa Gym. “yang terpenting adalah dirimu sendiri, kemudian pertahankan keluargamu dan teman-temanmu baru selanjutnya selamatkan orang lain.”
Sebagai putra tertua dakuw berkewajiban dan memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dakuw. Terlebih lagi setelah meninggalnya ayah dakuw. Bukan hanya menjaga dan mengembangkan harta peninggalannya namun juga nama baik. Sudah saatnya bagi dakuw untuk tumbuh dewasa.
Membuang impian-impian semu kaum intelektual mahasiswa. Saat ini dakuw hanya terkonsentrasi pada diri dakuw seorang. Yang terpenting adalah segera menemukan sebuah pekerjaan yang benar-benar menghasilkan uang besar dan menyelesaikan pendidikanku.
Orang boleh bilang dakuw pengecut, Borjuis sialan, anti revolusi, anti perubahan,anti pembaharuan, reinkarnasi Fico Fellove. Dan dakuw hanya akan tertawa sebab kenyataannya mereka yang menghujat nama dakuw sama sekali tidak mengenal dakuw dengan baik.
Di masa lalu bersama RA dakuw telah melakukan tindakan -tindakan luar biasa yang mungkin hanya dapat mereka ketahui dari dongeng semata. Tapi sudahlah masa lalu hanya masa lalu sementara masa depan adalah masa depan. Dakuw hidup di jaman ini. Dan meski sedikit menyesal dengan beberapa pengalaman dakuw di masa lalu namun dakuw juga sama sekali ngga merasa bersalah karenanya.
Sebenarnya dakuw tulis semua risalah diatas, lantaran beberapa hari ini dakuw berurusan dengan seseorang yang bisa disebut sebagai mahasiswa revolusioner ( sesuai policy SI ngga menyebut merk). Arah perjuangannya dan arah pergerakannya menurutku terlalu keras. Pada prinsipnya dakuw setuju saja jika hanya diminta untuk bergabung dalam organisasinya dan bergerak dalam bidang sosial.
Karena sebagai mantan anggota RA dakuw juga menyadari bahwa lebih baik terorganisir daripada bergerak secara individu.selama cita-citanya sama dan memberi keuntungan yang jelas bagi dakuw. But jika sudah sampe menyentuh ranah Hukum, politik dan pengerahan Massa. Dakuw mah apatis aja.(TAF)
pada tahun 2008 tertanggal 8 agustus di madiun penulis selesaikan ini tulisan.
